Selalu berfikir bahwa kita berbeda

kita pasti setuju bahwa kegiatan berfikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugrah tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berfikir dengan cara secangih manusia, dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini dan dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah di uji yang sudah di bolak balik di masyarakat, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berfikir, sikap mental untuk berbeda pendapat, aturan dan tatakrama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu misalnya untuk tidak membantah tidak berdebat untuk menjunjung harmoni kita sadari ternyata tidak selamnya menyuburkan cara berfikir, kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara berfikir kita baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan dalam perjalanan kehidupan saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru di adunya pendapat kita dengan kritik pertanyaan keraguan orang lain bahkan setelah berdebat sengit yang paling penting sikap mental perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik serta sanggahan. para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam menembak masalah menelurkan solusi dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan disini kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat karena kita tidak sealiran tidak suka individu yang berpendapat lain. saat sekarang kita juga semakin sadar sekedar asbun tanpa berlatih tanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya malah bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri, namun demikian memang masih banyak kita temui orang berpendapat tapi tidak bertanggung jawab misalnya sales manager yang mengatakan di perusahaan ini sistim administrasinya kacau masak tanda terima barang bisa di tandatangani oleh seorang sales man tanpa di ketahui penerima barangnya pernyataan yang di lempar tanpa mengetahui follow up sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa di sertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat individu yang ingin masuk pada kancah perdebatan intelektual perlu berlatih mencermati gejala tulisan tindakan atau keputusan dengan hati-hati dalam dan berusaha mendapat point dari isu tersebut seruan misalnya turunkan bbm turunkan harga sembako akan lebih intelektual bila yang berseru sudah mempelajari apakah gejala kenaikan bbm ini melulu di sebabkan oleh korupsi atau gejala yang mendunia kita pun perlu membedakan fakta dan pendapat kasus dari gejala umum membersihkan bias selain juga tidak berfikir hitam putih saja dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu ( tidak menggeneralisasikan sesuatu) artinya ada fakta fakta yang membenarkan tindakan tersebut. pemikir sehat individu tidak terlepas berapa usianya sering tidak menyadari kesalahan berfikir, ada yang dari dulu sampai sekarang tetap keras kepala. ada yang tidak pernah sadar bahwa ia sok tahu menyakini sesuatu tanpa pernah mengupdate atau mengecek kebenaranya lebih lanjut banyak juga yang berasumsi bahwa kekuatan berfikir berkolerasi besar dengan iq tingkat kecerdasan bila orang pintar berpendapat orang cenderung mengiyakan dan setuju fenomena tunduk pada yang cerdas ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara berfikir kita sebenarnay cara berfikir bisa di kembangkan dengan cara yang simple memelihara kegiatan mempertanyakan beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara dan sikap undogmatik kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara debat, kalau kita berkeinginan sehat dalam berfikir kita pun menyadari bahwa otak hanya bisa meyerap sedikit informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. dengan keterbatasanya otak sering melakukan oversimplification yang berakibat pada penyaringan fakta keterbatasan berfikir dan bahkan tercampurnya fakta sumsi maupun keyakinan individu berarti bila kita ingin di terima sebagai pemikir obyektif kita pun harus membuka fikiran seperti layaknya seorang anak sekolah menyerap banyak informasi sebanyak-banyaknya baru kemudaian memilih dan menyaring sehingga presisi akurasi relevansi logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal. saat sekarang dimana semakin marak sekolah nasional yang geratis bisa mencerdaskan bangsa sudah seharusnya kita bisa berharap untuk berada di kancah berfikir yang obyektif terang dan positif meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja tetep perlu di korek korek di pikirkan di endapkan dan di cocokkan namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap untuk memodifikasi alam pikir kita dengan cara inilah kita maju dan bisa pintar sambil tetap mempunyai ruang berfikir yang kreatif dan inovatif. kegiatan berfikir selalu mengedepankan obyektifitas jadi kita harus tahu bahwa obyektif itu dilihat dari sudut segi yang bagaimana karena obyektif itu berkenaan dengan keyakinan individu-individu, bisa jadi orang melihat hal tersebut sudah obyektif tapi menurut orang hal itu belum obyektif, ini yang kita sebut dengan diferent artinya seseorang memiliki sifat dan pemikiran berbeda dan memiliki obyektifitas yang berbeda beda, perbedaan cara pandang ini yang kemudian menjadi sebuah polemik didalam masalah tertentu kadang menjadi masalah yang tidak selesai selesai berlarut-larut, dengan adanya perbedaan pandangan tersebut maka kita harus mempunyai sikap menghargainya itu lah kenyataan hidup orang harus menghargai suatu perbedaan cara pandang. memaksakannya berarti jg tidak menghargai suatu perbedaan orang lain, perbedaan bukanlah untuk disamakan tapi untuk di hargai, seperti kita menghargai bahwa kita memiliki kulit yang berbeda wajah yang berbeda rambut yang berbeda? itulah perbedaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: